Ayah, Restui Kami,...
Hari – hariku menjadi berbeda tiba – tiba setelah mengenalnya, namanya Hilman usianya 3 tahun diatasku, dia
pemuda biasa saja dari keluarga yang sederhana tidak banyak yang kutahu
darinya karena kami hanya tetangga desa sedang aku dari kecil selalu
memiliki teman diluar lingkungan tempat tinggalku hal itu disebabkan
letak sekolahku yang selalu jauh dari desa. Pendidikannya terakhir hanya
Sekolah Menengah Atas oleh karena itu pekerjaanya hanya sebagai pekerja
serabutan di bengkel yang jaraknya tidak lebih 2 km dari rumahku.
Hari
itu pertama kali aku bertemu dengan mas Hilman begitu cara aku
memanggilnya, aku yang kebetulan punya kesempatan kuliah di luar kota
sore itu pulang dengan naik kereta api, tiba – tiba saja hujan mengguyur
dengan derasnya dengan berlari aku mencari tempat berteduh dan tanpa
aku sangka tas besar yang aku jinjing ada tangan yang menariknya
kemudian membawanya kearah warung kopi sedang tanganya yang satunya lagi
menarik tanganku seraya mengajakku lari bersamanya.
Belum
rasa kagetku telah usai rupanya mas Hilman ingin mengajakku bicara
tetapi yang aneh kali ini ia menggunakan gerakan badan, tangan, kontak
mata serta mimik wajah didepanku untuk memberitahuku sesuatu yang ingin
ia sampaikan. Iya baru aku tahu bahwa mas Hilman selama ini adalah
seorang tuna rungu, seorang di belakangku yang tak lain adalah pakde
Supri pemilik bengkel dekat rumahku memberitahuku kalau alat bantu
dengarnya ketinggalan di bengkel jadi mas Hilman tidak akan mendengar
pembicaraanku. Mas Hilman ingin memberitahuku bahwa ia meminta maaf jika tadi membuatku kaget dan takut dengan tiba – tiba menarik tanganku untuk berteduh.
Keesokan
harinya tanpa di sengaja ban motor milik Ayahku bocor terkena paku,
sengaja aku yang meminta untuk menambalkannya ke bengkel pakde Supri
alasanku sekalian ingin mengucapkan terima kasih karena kemarin sudah
diantar pulang oleh mas Hilman. Sampai disana kutemui mas Hilman sedang
melakukan sholat Dhuha di bengkel, sambil tertegun aku menunggunya
selesai dan perasaan sejuk tiba – tiba seakan merayapi relung jiwaku.
Dengan telaten dia memperbaiki ban motor Ayahku sambil sesekali
menatapku sambil tersenyum dan Subhanallah senyumnya manis sekali hingga
rasanya pipiku merona karena tersipu menerimanya. Dan bersamanya hari
itu tidak lupa membuatku terkaget juga oleh datangnya anak kecil
berpakaian seragam Taman Kanak – Kanak dengan riang memeluk dan merajuk
pada mas Hilman dari belakang sambil memanggilnya Ayah, sontak aku kaget
sekali karena belum pernah aku dengar mas Hilman sudah menikah ataukah
aku yang tidak tahu selama ini jika dia sudah menikah.
Kejadian
hari itu membuatku selalu bertanya – tanya didalam hati hingga saat aku
memulai perkuliahan di kota semarang lagi, pada siang hari saat aku
pulang tanpa sengaja bertemu dengan pakde Supri di persimpangan jalan
tanpa malu – malu aku menanyakan keadaan mas Hilman, tanpa aku minta
beliau menceritakan banyak hal mengenai mas Hilman, ternyata anak itu
bukanlah anak kandungnya melainkan anak sepupunya yang hamil diluar
nikah dan meninggal saat melahirkan, oleh karena itu mas Hilman yang
mengasuhnya, ya mas Hilman seorang diri yang mengasuhnya dari bayi aku
katakan begitu karena ibunya teman satu – satunya dirumah adalah seorang
janda yang sudah renta. Rasanya tidak bisa aku membayangkan bagaimana
jika aku di posisi laki – laki itu, betapa besar rasa kagumku kepadanya
Subhanallah dia benar – benar manusia biasa memang namun bagiku sungguh
tidak biasa. Ada satu kalimat yang paling aku suka dari cerita panjang
yang di ucapkan pakde Supri jika mas Hilman menyukaiku entah itu benar
atau tidak atau bagian mana dari diriku yang pantas ia sukai aku tidak
tahu, yang jelas aku menjadi tersipu malu mendengarnya.
Itulah
sekelumit cerita mengenai mas Hilman, dengan berjalanya waktu
beriringan dengan intensitas pertemuan kami yang jarang sekali terjadi
sampai juga pada babak kami memadu kisah kasih, belum pernah aku rasakan
perasaan bahagia dan percaya yang begitu lembut namun kuat di samping
laki – laki lain dan hanya pada diri mas Hilman aku menemukanya.
Keluargaku belum mengetahui jika aku menjalin cinta kasih dengan mas
Hilman sebelumnya, hingga saat aku diwisuda itulah kali pertama Ayahku
mengetahuinya karena mas Hilman datang ke kampusku untuk menjadi
pasangan wisudaku dan kupikir akan cocok momentnya jika sekalian aku
mengenalkannya dengan orang tuaku. Semua itu adalah murni ideku namun
semuanya meleset dari dugaanku tanpa kuduga Ayahku marah dan memaki –
maki mas Hilman didepan banyak orang, Ayah mengira bahwa aku menyukainya
karena dia mengguna – ngguna diriku.
Hari
itu aku putus kontak dengan mas Hilman padahal aku belum minta maaf
atas kejadian itu, benar saja Ayahku tidak menyetujuinya karena
menurutnya banyak kekurangan di diri mas Hilman hingga tidak pantas jadi
calon suamiku, aku bisa mengerti tentang perasaan Ayah tapi bukan
dengan cara membentak – bentak sambil marah kepada mas Hilman seperti
kemarin, melihatnya aku hanya bisa menangis terisak menahan dadaku yang
sesak dan sakit. Ayah tidak pernah mengenal siapa mas Hilman, setiap
kali kucoba menjelaskan alasan – alasanku mencintai mas Hilman Ayahku
serasa sengaja menutup telinganya tidak mau mendengar hingga Ayah
meminta pula bantuan orang pintar untuk membantuku melupakan mas Hilman.
Aku hanya bisa mengelus dada dan tertawa miris didalam hati mengapa
Ayahku seperti itu, tentu saja aku tidak akan terpengaruh dengan jampi –
jampi macam begituan karena semuanya kulakukan dengan jiwa yang fitrah.
Setiap
malam aku selalu menangis didalam tidurku dan menyesali mengapa Ayahku
yang selama ini sangat aku banggakan karena kebijaksanaanya menjadi
begitu keras, tamak dan membutakan mata batinya hanya untuk mencari
kepuasan duniawi saja. Begitu adilkah jika kita hanya melihat seseorang
dari kenampakan luarnya saja tanpa harus mengenali kemuliaan yang
terkandung didalamnya, sampai saat itu aku sama sekali belum mendengar
kabar mas Hilman entah bagaimana keadaanya diluar sana.
Ya
Allah ya Tuhanku sampai hampir 2 bulan aku dikurung didalam rumah pergi
untuk mencari pekerjaan aku dilarang bahkan keluar untuk beli pembalut
aku tidak diijinkan, hanya beribu – ribu istigfar yang dapat keluar dari
mulutku. Perasaan bersalah kepada mas Hilman semakin menguat, teman
bicara aku tidak punya karena Ibu pun bungkam dengan keadaanku karena
takut pada Ayah, makan dan tidur rasanya tidak enak lagi, berat badanku
menyusut drastis, belum lagi jika aku dengar bahwa Ayah akan
menjodohkanku dengan seorang kontraktor duda kaya asal kota malang.
Astagfirullahaladziim
selalu itu saja yang bisa aku ucapkan sambil meneteskan air mata,
hingga semua beban pikiran itu memuncak dan menumpuk dikepalaku dan tiba
juga hari itu saat aku kekamar mandi dengan sempoyongan aku terjatuh
kepalaku terbentur bak kamar mandi dan aku tidak ingat apa – apa lagi
semuanya gelap, yang masih kudengar saat itu adalah teriakan ibuku dari
dapur.
Hari
itu juga aku dibawa kerumah sakit swasta di daerahku, menurut cerita
yang ku dengar hari saat aku siuman adalah hari ketiga dari aku jatuh.
Dan saat aku membuka mata semua badanku terasa berat dan sangat sakit di
semua bagian bahkan saat aku ingin bicara pun aku tidak bisa, iya aku
terkena struck yang cukup parah, kakiku menjadi lumpuh dan sulit
berbicara. Dan hari itu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan mas
Hilman ternyata Ayah yang memintanya untuk menemaniku saat aku tidak
berdaya seperti ini.
Apakah aku menyalahkan Ayahku dengan keadaanku seperti ini?, sungguh tidak… aku berbalik mensyukurinya
karena dengan diriku begini aku yakin Ayah yang aku sayangi akan
mendapatkan pelajaran yang berharga, baru bisa hari itu aku dapat
merasakan gembira karena dapat menjadi anak yang berguna. Apakah mas
Hilman meninggalkanku?, tentu saja tidak… hari itu juga mas Hilman
melamarku menjadi istrinya dan lusa kami akan menikah di bengkel tempat
mas Hilman bekerja karena ternyata bengkel itu sudah di beli mas Hilman
sejak 3 bulan yang lalu. Ayah menyaksikan cara mas Hilman melamar dan
meyakinkanku untuk menerimanya mungkin dengan perasaan campur aduk dan
baru kali itu aku melihat Ayah menangis.
Aku
yakin pernikahanku akan menjadi pernikahan yang berhasil dan membawa
barokah pada keluargaku serta keluarga kecilku bersama mas Hilman serta
haikal anak angkat kami nantinya, akupun akan berusaha dan berdo’a
supaya di beri lekas kesembuhan. Semoga setelah banyaknya air mata yang
tercucur dari kami semuanya dengan kebijakan dan kebaikan Ilahi akan
diganti dengan senyum dan kebahagiaan sejati… Terkadang seindah apapun
cara kita merencanakan dan berusaha mengabulkan sesuatu yang kita
inginkan belum tentu, bahkan tak akan seindah apa yang sudah
direncanakan Allah kepada kita sampai saat kita mengetahuinya sendiri
suatu saat hingga hari itu datang.




