Cinta yang Sesungguhnya
Kali
ini aku telah menerima gelar sarjana,,hahay aku sudah bukan anak
ingusan, lulus aku bertekad bekerja, bekerja sangat keras hingga kaya
itu citaku bak gayung tersambut begitu lulus tanpa sama sekali menunggu
ada perusahaan besar menggandengku, aku bekerja sangat riang dan
professional meski kenyataannya hanya tenaga kontrak yang dianggap bodoh
oleh penguasa dan bekerja selalu dibawah tekanan, tak masalah yang
penting tetangga di kampung melihatku sebagai seorang anak
perempuan yang sukses karena sudah menjadi karyawati perusahaan besar
tanpa harus bertanya berapa gajiku mereka sudah akan mengira sendiri.
Ya,,
sayangnya aku perempuan, terkadang aku berpikir jika aku laki-laki
keluargaku tak akan pernah meributkan kapan aku akan menikah karena para
tetangga sudah ribut ingin memberiku gelar sebagai perawan tua. Bukan
maksudku untuk menjadi laki-laki karena aku wandu*, aku suka
lelaki tampan dan baik tapi hanya suka saja tidak pernah sampai
tergila-gila. Suatu hari aku pernah di ajak kencan oleh seorang pria dia
rekan kerjaku, di sampingnya aku merasa senang karena akan selalu
tertawa sepanjang istirahat makan siang dan sedikit melupakan kepenatan
pekerjaanku, dia menungguku disebuah restoran kala itu karena aku
sedikit pusing dan malam itu sebenarnya aku telah punya agenda sendiri
untuk memanjakan tubuhku di rumah kecantikan, akhirnya kuputuskan untuk
membatalkan janji malam itu meski aku telat memberi tahu sedangkan dia
sudah menunggu. Beribu kali dia menelfonku untuk mengajakku ke dokter
memeriksakan kepalaku yang pusing bukan tambah merasa simpatik tapi
semakin jengkel perasaanku padanya.
Hingga
suatu hari aku mendapatkan sms ibu untuk pulang ke rumah, buru-buru aku
membeli tiket kereta api karena bapak opname di RS. Sesampainya di
rumah sakit ibu dan kedua abangku menyambut mengantar ke ruang ICU
karena bapak terkena serangan jantung. Oh.. bapak ternyata engkau telah
renta, aku terisak melihatnya. Ibu bilang bapak sakit karena memikirkan
diriku yang tidak segera menikah di usia 30 tahun, serta mendengar
candaanku yang tidak akan menikah saja beberapa hari sebelumnya. Mau
bagaimana lagi jika tidak kesal banyak kerabat dan tetangga yang
bertanya kapan aku akan menikah jadi aku asal jawab saja, meski
sebenarnya terjadi pun juga tidak masalah bagiku toh di Negara eropa,
korea, cina atau lainya sudah biasa.
Jika
tidak menikah aku akan tetap giat bekerja dan tidak perlu repot
melayani suami, lagi pula semakin hari pekerjaanku semakin banyak, meski
tidak besar tapi gajiku cukup untuk menghidupi diriku sendiri aku bisa
beli ini itu tanpa harus merengek atau minta ijin pada siapapun, aku
punya kontrakan sendiri, mau foya-foya, mau berhemat terserah padaku.
Lain dengan pikiran orang tua serta saudara atau mungkin aku saja yang
berpikiran seperti itu,maka mereka selalu memaksaku untuk menikah agar
ayah cepat pulih kesehatanya, lalu abangku berinisiatif menjodohkanku
dengan kenalannya, karena aku takut di cap sebagai anak durhaka tanpa
berpikir panjang aku iya kan saja saran abangku.
Tibalah
di hari pertemuan keluarga antara keluargaku dan keluarga calon
suamiku, bukan merasa senang, deg-degan maupun sebal sama sekali aku
tidak merasa apapun yang terasa hanya perasaan malas dan ingin cepat
selesai kemudian langsung menikah jika tidak cocok langsung saja
bercerai barangkali dengan begitu tak akan ada lagi yang menyebutku
perawan tua. Orangnya memakai hem warna biru di masukkan pada celana
kain warna hitam kemudian di tambah aksesori ikat pinggang, terlihat
resmi tapi masih terkesan santai dan bersih. Tingginya mungkin 175cm,
rambutnya cepak rapi, parfumnya beraroma bamboo yang menenangkan, dan
kelihatanya pintar bercanda.
Acara
siang itu harus diakhiri dengan keragu-raguan dari kedua belah pihak,
masalahnya domisili tempat kerja kami berbeda aku di jawa barat
sedangkan dia di jawa timur, orang tuanya menginginkan aku mengundurkan
diri saja dari pekerjaanku dan ikut suami, baru setelah ada perkataan
seperti itu aku tersentak dan menyadari aku ada di dunia nyata, dengan
serta merta aku menolaknya. Enak saja aku disuruh berhenti dari kecil
aku sudah hidup pas-pasan, biaya kuliah itu aku sendiri yang mencarinya,
sejak kuliah aku sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhanku sendiri
tanpa harus merepotkan orang tua dan kedua abangku yang juga sedang
berjuang memperbaiki jalan hidup mereka, hingga aku dapat kerja yang
layak ya biar aku dapat memberi orang tuaku ini malah suruh aku
berhenti. Memang penghasilan pemuda itu berapa berani-beraninya seperti
itu, meskipun banyak aku juga tidak sudi dilarang-larang untuk bekerja
bagaimana masa depanku nanti kalau aku bercerai dengannya.
Ibu
bilang untuk aku mengalah saja dan mengikuti suami, tapi aku bersikeras
untuk tidak mau atau agar dia saja yang pindah kerja ke jawa barat.
Satu minggu kemudian aku mendadak jatuh sakit terkena serangan mag akut,
perusahaan tak mau tau akan sakitku karena aku telah mengambil cuti
maka aku tidak bisa ijin lagi dengan alasan apapun begitulah kira-kira
kaum kapitalis, singkat cerita aku mengundurkan diri dan tanpa ada
pilihan lain lagi aku menikah dengan suamiku, tentu tanpa cinta maupun
itikad baik untuk setidaknya mengabdi padanya.
Satu
minggu setelah akad nikah aku pindah mengikuti suamiku ke Blitar,
disana sakitku rasanya bertambah parah hingga sering muntah bahkan
pingsan di tengah pasar. Sedikit hal mengenai suamiku dia tidak pernah
meninggalkanku ketika aku sakit, dia merawatku terkadang berlebihan
seperti putrinya, dia menangis pada malam ketika aku pingsan, mengajakku
berdzikir kepada Allah swt agar aku diberi kesembuhan dari kanker
lambung yang kuderita setiap malam. Inikah cinta Tuhan jika benar maka
aku benar-benar mencintainya, tentu karena Engkau yang maha pemberi
takdir sebaik-baiknya takdir. Terimakasih saya masih diberi kesempatan
untuk memahami hakekat hidup yang sebenarnya. Malam ini aku bersimpuh di
kaki suamiku untuk meminta maaf atas segala kesalahanku di masa lalu
kepadanya kemudian kepada semua keluarga, dia mengangkat daguku mengusap
air mata dan mencium keningku kemudian sambil memelukku dia berbisik
bahwa dia telah memaafkan bahkan sebelum aku bersalah dan mencintaiku
bukan dari fisik maupun peragaiku tapi karena Allah swt dan karena aku
adalah seorang istrinya yang syah ia pinang dengan ijin Allah swt.





